![]() |
| Berkebun di Seniman Pangan |
Konten Gaptek - Ada
kalanya kita perlu berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kota untuk kembali melihat
dari mana makanan yang kita nikmati sebenarnya berasal.
Bukan
hanya dari supermarket, pasar, atau rak toko. Jauh sebelum menjadi makanan yang
tersaji cantik di atas meja, setiap bahan pangan memiliki perjalanan panjang.
Ada tanah tempatnya tumbuh, orang yang menanam dan merawatnya, pengetahuan yang
diwariskan, hingga tangan-tangan kreatif yang mengolahnya menjadi sesuatu yang
bernilai.
Itulah
segelumit pengalaman yang aku rasakan kemarin, ketika berkunjung ke Seniman Pangan di kawasan Vida Bekasi bersama teman-teman Eco Blogger Squad. Kunjungan ini
juga sebagai dalam rangka memperingati Hari Internasional Masyarakat Adat
Sedunia (International Day of The World’s Indigeneous Peoples) yang jatuh pada
tanggal 9 Agustus.
![]() |
| Eco Blogger Squad |
Awalnya aku membayangkan kunjungan ini hanya akan menjadi agenda menikmati kebun dan mencoba berbagai olahan pangan. Namun ternyata, semakin jauh mengenal tempat ini, semakin terasa bahwa Seniman Pangan membawa cerita yang jauh lebih besar: tentang alam, budaya, kreativitas, dan bagaimana makanan dapat ikut menggerakkan ekonomi masyarakat.
Ketika Ruang Hijau Menjadi Ruang
Belajar
![]() |
| Lahan di Seniman Pangan |
Fyi,
buat yang belum tau, Seniman Pangan telah berkembang sejak 2017 di kawasan Vida
Bekasi dengan memanfaatkan area hijau sekitar tiga hektare.
Yang
menarik, tempat ini tidak sekadar menghadirkan kebun sebagai penghijauan. Lahan
tersebut juga dimanfaatkan sebagai ruang untuk belajar mengenal tanaman,
mengembangkan produk pangan, melakukan eksperimen, serta memperkenalkan kembali
beragam kekayaan pangan Indonesia.
Kemarin,
di Seniman Pangan ada 3 tokoh penting yang mengajarkan kita tentang pangan
lokal dan mengajak berkeliling kebun diantaranya:
- -
Ibu Etih Suryatin – Partnership Director
Seniman Pangan.
- -
Johanna Hehakaja – Business Director
Sekolah Seniman Pangan.
- - Corazon Nikijuluw – Food Technology &
Education Manager Seniman Pangan.
![]() |
| Etih Suryatin – Partnership Director Seniman Pangan |
Segelintir
pertanyaan terlintas di benakku: bagaimana lahan dapat menghasilkan sesuatu
yang bermanfaat? Bagaimana tanaman lokal bisa memiliki nilai tambah? Dan
bagaimana kekayaan pangan yang selama ini mungkin dianggap biasa saja dapat
memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang menjaganya?
Akhirnya
semua pertanyaan tersebut perlahan terjawab saat kita mulai menyusuri kebun.
Berjalan di Kebun, Mengenal Indonesia
dari Tanamannya
![]() |
| Seniman Pangan |
Begitu
memasuki area kebun, suasananya asri semakin terasa. Di tengah kawasan
perkotaan yang identik dengan kendaraan, bangunan, dan aktivitas yang serba
sibuk, hamparan hijau memberikan pengalaman yang cukup menenangkan.
Aku
dan teman Eco Blogger Squad melihat beragam tanaman yang sebagian sangat akrab
dalam kehidupan sehari-hari. Ada kemangi, serai, kunyit, jahe, kencur,
temulawak, lengkuas, rosella, bunga telang, berbagai jenis mint, singkong,
talas, cabai, dan masih banyak lagi tanaman lainnya.
Menariknya,
tanaman-tanaman tersebut tidak hanya dilihat sebagai bahan untuk dimasak. Kita
diajak melihat kemungkinan lain yang bisa muncul dari setiap tanaman. Misalnya kemangi.
Selama
ini kemangi mungkin lebih sering kita kenal sebagai teman makan lalapan atau
pelengkap sambal. Namun di tangan orang-orang yang mau bereksperimen, tanaman
dengan aroma khas tersebut bisa diolah menjadi sirup lho.
Dari sini aku mulai menyadari bahwa nilai sebuah bahan pangan tidak selalu berhenti pada bentuk aslinya. Dengan pengetahuan, kreativitas, dan proses pengolahan yang tepat, sesuatu yang sederhana dapat berubah menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Dari Kemangi Menjadi Sirup, dari
Rosella Menjadi Selai
![]() |
| Johanna Hehakaja – Business Director Sekolah Seniman Pangan. |
Salah
satu pengalaman yang cukup menyenangkan adalah ketika kita tidak hanya melihat
produk, tetapi ikut mencoba proses pengolahannya. Kemangi yang biasanya identik
dengan masakan gurih ternyata bisa hadir sebagai minuman menyegarkan.
Kita
melakukan demo langsung pembuatan sirup kemangi, Aroma herbalnya tetap terasa,
tetapi pengalaman menikmatinya menjadi berbeda.
![]() |
| sirup kemangi |
![]() |
| Pembuatan Sirup Kemangi |
Selanjutnya
kita juga mencoba mengolah rosella menjadi selai. Kelopak rosella yang memiliki
warna merah alami ternyata bisa menghasilkan produk dengan tampilan menarik
sekaligus rasa asam-manis yang khas. Rasanya enak dan manis, aku pun ketagihan
nyobain selai ketika dioleskan di sebuah roti.
Siapa
sangka hal sederhana seperti ini justru membuka perspektif baru. Ternyata
inovasi pangan tidak selalu membutuhkan bahan yang mahal atau sulit ditemukan.
Kadang, bahan yang tumbuh di sekitar kita justru menyimpan peluang yang belum
banyak digali.
Di sinilah kreativitas menjadi penting. Ketika sebuah tanaman lokal diolah menjadi produk baru, nilai ekonominya bisa meningkat. Bukan hanya bahan mentah yang memiliki harga, tetapi juga pengetahuan, keterampilan, proses produksi, kemasan, hingga cerita yang menyertainya.
Menikmati Indonesia dalam Satu Meja
![]() |
| Corazon Nikijuluw – Food Technology & Education Manager Seniman Pangan. |
Setelah mengenal kebun dan mencoba mengolah bahan pangan, perjalanan kami berlanjut ke pengalaman yang mungkin paling mudah disukai banyak orang: makan bersama. Ini sesi paling ditunggu hehehe. Namun, kali ini makanan bukan sekadar soal rasa kenyang. Setiap hidangan yang hadir membawa cerita dari daerah asalnya.
![]() |
| Menikmati Indonesia Dalam Satu Meja |
Ada
nasi subut dari Kalimantan yang memiliki warna ungu alami dari ubi jalar ungu.
Ada rujak Aceh dengan cita rasa khasnya, sate daun singkong dari Mollo, Nusa
Tenggara Timur, serta bumbu pecel dari Yogyakarta.
Jujur, aku first time nyobain sate daun singkong, yang awalnya aku tidak doyan daun singkong, jadi doyan lantaran penyajiannya yang unik dan berbeda. Kita juga mencicipi hidangan yang menggunakan bahan dari daerah lain, seperti cashew butter dari Flores.
Beragam
makanan tersebut membuat ku merasa seolah sedang melakukan perjalanan keliling
Indonesia tanpa harus meninggalkan meja makan.
Satu
suapan membawa kita mengenal bahan dari daerah tertentu. Hidangan lain
memperkenalkan teknik pengolahan yang berbeda. Ada pula makanan yang membuat
kita kembali mengingat bahwa banyak bahan pangan lokal sebenarnya sudah lama
menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.
Inilah
menariknya gastronomi. Makanan ternyata bisa menjadi cara yang menyenangkan
untuk mengenal sebuah daerah. Kita tidak hanya berbicara mengenai resep dan
rasa, tetapi juga tentang sejarah, lingkungan, tradisi, serta orang-orang yang
berada di belakangnya.
Makanan Tidak Pernah Benar-Benar Hanya
Soal Makanan
![]() |
| Produk Lokal di Seniman Pangan |
![]() |
| Produk Lokal di Seniman Pangan |
![]() |
| Produk Lokal di Seniman Pangan |
Setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, saya semakin memahami bahwa sepiring makanan sebenarnya menyimpan cerita yang cukup panjang.
Bayangkan
sebuah bahan pangan lokal. Sebelum sampai ke piring, ada petani yang
menanamnya. Ada lingkungan yang menyediakan tempat tumbuh. Ada pengetahuan
mengenai kapan tanaman harus dipanen. Ada teknik untuk mengolahnya. Ada pelaku
usaha yang mengembangkan produk. Dan akhirnya ada konsumen yang memilih untuk
membelinya.
Artinya,
ketika kita membeli dan menikmati produk pangan lokal, kita sebenarnya sedang
menjadi bagian dari sebuah rantai ekonomi. Pilihan yang terlihat sederhana
dapat memberikan dampak kepada banyak pihak.
Semakin banyak orang tertarik pada produk lokal, semakin besar pula peluang bagi petani, pengolah pangan, pelaku UMKM, pengrajin, komunitas lokal, hingga masyarakat adat untuk mengembangkan produk mereka. Di sinilah pangan dapat menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali ekonomi berbasis potensi daerah.
Ketika Kekayaan Lokal Mendapat Nilai
Baru
![]() |
| Seniman Pangan |
Indonesia
memiliki begitu banyak tanaman, bahan pangan, resep, dan pengetahuan
tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sayangnya, tidak
semuanya mendapatkan perhatian yang sama.
Ada
bahan pangan yang mungkin mulai jarang digunakan. Ada resep tradisional yang
hanya dikenal oleh generasi tertentu. Ada pula pengetahuan tentang tanaman dan
pengolahannya yang berisiko hilang apabila tidak lagi dipraktikkan. Karena itu,
memberikan ruang kepada pangan lokal untuk berkembang bukan hanya persoalan
bisnis. Ada unsur pelestarian di dalamnya.
Ketika
masyarakat masih membutuhkan suatu bahan, petani masih memiliki alasan untuk
membudidayakannya. Ketika sebuah resep masih dicari, pengetahuan memasaknya
akan terus dipelajari. Ketika produk lokal memiliki pasar, generasi berikutnya
memiliki kesempatan untuk melihat bahwa kekayaan daerah mereka juga memiliki
nilai ekonomi.
Dengan demikian, budaya tidak harus selalu ditempatkan sebagai sesuatu yang hanya disimpan di museum. Budaya juga dapat hidup melalui makanan yang kita santap sehari-hari.
Peran Kita sebagai Konsumen
![]() |
| Seniman Pangan |
Hal
yang paling aku sukai dari pengalaman di Seniman Pangan adalah kesadaran bahwa
kita tidak harus melakukan sesuatu yang besar untuk ikut mendukung pangan
lokal.
Kita
bisa memulainya dari hal yang sangat sederhana. Saat berbelanja, misalnya, kita
dapat memilih produk yang dibuat oleh pelaku usaha lokal. Ketika menemukan
bahan pangan dari daerah tertentu, kita bisa mencoba mengolahnya. Kita juga
dapat mengenalkan makanan tradisional kepada anak-anak atau keluarga.
Bahkan
sekadar mencoba produk pangan lokal dan menceritakan pengalaman kita kepada
orang lain pun bisa menjadi langkah kecil. Memang, satu pembelian mungkin
terlihat tidak berarti. Tetapi bayangkan jika pilihan tersebut dilakukan oleh
banyak orang secara konsisten.
Permintaan
meningkat. Pelaku usaha memiliki kesempatan berkembang. Produsen membutuhkan
lebih banyak bahan. Petani memperoleh pasar. Pengetahuan tentang bahan dan
pengolahan tetap digunakan.
Sebuah
keputusan kecil di meja makan akhirnya bisa menciptakan efek yang lebih
panjang.
Belajar Menghargai Apa yang Ada di
Sekitar Kita
![]() |
| Seniman Pangan |
Kunjungan
ke Seniman Pangan membuat diriku melihat makanan dengan cara yang sedikit
berbeda. Dulu, mungkin aku lebih sering melihat makanan dari hasil akhirnya
seperti apakah rasanya enak, tampilannya menarik, atau cocok dengan selera.
Sekarang
aku justru lebih sering bertanya, dari mana bahan ini berasal? Siapa yang
menanamnya? Apakah ada cerita di balik makanan ini? Pengetahuan apa yang
digunakan untuk mengolahnya? Dan siapa saja yang mendapatkan manfaat ketika
kita memilih untuk mengonsumsinya?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut membuat pengalaman makan menjadi lebih bermakna. Sebab pada akhirnya, makanan bukan hanya sesuatu yang masuk ke dalam tubuh. Makanan juga terhubung dengan lingkungan, ekonomi, kebudayaan, dan kehidupan manusia.
Menjaga Indonesia Bisa Dimulai dari
Isi Piring
![]() |
| Seniman Pangan |
Indonesia
memiliki kekayaan pangan yang luar biasa. Dari Sabang sampai Merauke, setiap
wilayah memiliki bahan, rasa, teknik pengolahan, dan tradisi yang berbeda.
Semua itu merupakan kekayaan yang tidak ternilai.
Namun
kekayaan tersebut hanya akan terus hidup apabila masih ada orang yang mengenal,
menggunakan, mengolah, dan menghargainya. Pengalaman di Seniman Pangan
mengingatkanku bahwa menjaga kekayaan pangan Indonesia tidak selalu harus
dimulai dari sesuatu yang besar.
Bisa
dimulai dari pilihan sehari-hari diantaranya: Membeli produk lokal, Mencoba
makanan dari daerah lain, Menghargai hasil kerja petani, Mengenalkan makanan
tradisional kepada keluarga, Atau sekadar tidak menganggap bahan pangan lokal
sebagai sesuatu yang kalah menarik dibandingkan produk dari luar.
Memanfaatkan
pangan yang berasal dari daerah setempat sebagai salah satu cara kita untuk
berkontribusi dari rumah, sekaligus menjaga dan melestarikan pengetahuan
tradisional serta warisan budaya IPLC (Indigenous Peoples and Local Communities
/ Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal).
Sebab
di balik satu bahan pangan ada manusia. Di balik satu resep ada pengetahuan. Di
balik satu hidangan ada budaya. Dan di balik pilihan kita sebagai konsumen, ada
kemungkinan terciptanya perputaran ekonomi yang lebih adil bagi masyarakat di
daerah asalnya.
Mungkin
inilah pelajaran paling berkesan bagiku dari perjalanan ke Seniman Pangan yakni menikmati
makanan ternyata bisa menjadi cara untuk menghargai Indonesia.
Dari
kebun, kita belajar tentang alam. Dari dapur, kita mengenal kreativitas. Dari
sepiring makanan, kita menemukan budaya. Dan dari pilihan untuk membeli serta
menikmati pangan lokal, kita ikut memberi kesempatan kepada para penjaga
kekayaan pangan Nusantara untuk terus berkarya.
Karena
pada akhirnya, menjaga cerita Indonesia tidak selalu membutuhkan langkah yang
besar. Kadang, cukup dimulai dari apa yang kita pilih untuk ada di atas meja
makan.
![]() |
| Thanks EBS & Seniman Pangan |
Sekian ulasan kali ini, SEOmoga dapat bermanfaat..!




















0 komentar untuk Dari Kebun ke Meja Makan: Menemukan Cerita Indonesia di Seniman Pangan.
Peraturan Berkomentar:
1. Mohon berkomentar dengan baik,sopan,santun dan secara wajar
2. Dilarang berkomentar tentang unsur /sara/promosi/ apapun yang bertentangan dengan hukum yang berlaku
3. Dilarang menyertakan link aktif
Tidak berkomentar sama sekali itu masih lebih baik, daripada mengucapkan seribu kalimat sampah.
Ucapanmu, Kualitas Dirimu!
Terima Kasih